Housekeeper’s Notes #01: Leiden is Lijden

Beberapa ratus hari ke depan, saya ditugasi untuk menjaga sebuah rumah. Tentu saja bukan rumah dalam arti harfiah. Kalau tugas menjaga rumah betulan, tidak perlu saya punya angan-angan untuk menulis karangan berseri seperti ini.

Rumah yang saya jaga bukanlah beberapa petak keramik beratap asbestos yang didaulat sebagai milik ratusan orang. Yang harus saya jaga adalah hak milik ratusan orang tadi yang mewujud dalam sebuah organisasi dengan segala anggaran dan kegiatannya. Mengurus rumah seperti ini tidak mudah. Dengan segala sesak-pengap banyaknya orang yang membuat organisasi ini megap-megap, rumah yang saya harus saya jaga itu masih kocar-kacir di dalamnya. Seri tulisan ini adalah usaha saya untuk memetakan kekocarkaciran tadi dan membagikan solusi yang bisa jadi benar namun bisa juga salah.

Saya tidak berharap banyak dari pengunjung blog ini yang makin hari makin merosot, bahkan sejak blog ini awal ditulis pun pengunjung tidak setiap hari bertandang. Tapi, setidaknya di sini saya bisa mengkritik dan memberi masukan untuk diri sendiri. Harapannya, siapapun yang membaca, entah penghuni rumah yang saya jaga atau bukan, bisa mendengarkan masukan itu dan barangkali sudi melengkapi atau menyanggah baik langsung maupun tidak. Tentu ini bukan satu-satunya sarana, apalagi sarana utama, untuk menjaring masukan dan meminta saran. Selalu ada hal-hal yang lebih bagus dibicarakan secara mulut-ke-mulut saja. Itu memang budaya kita. Hanya saja, sayangnya, saya mungkin masih lebih terampil menulis ketimbang berbicara. Menulis pun kadang saya masih suka lupa apa yang akan saya tulis, apalagi bicara. Sekali lagi, tulisan-tulisan ini bukan hendak mengganti saran secara lisan. Ini hanya pelengkap saja. Siapa tahu penjaga-penjaga rumah yang lain bisa belajar dari sini, karena toh isinya aman dari salah ingat sehingga bisa dipelajari kapan saja.

Datangnya tugas itu walaupun sudah lama diancang-ancang tapi tetap saja terasa berat ketika sudah jatuh di pundak. Ada banyak alasan yang membuat saya sebetulnya tidak ideal diserahi tugas ini. Apa daya orang banyak berkehendak lain. Saya tidak bisa menjanjikan yang bagus-bagus untuk organisasi ini. Sebuah rumah yang jarang disapu lantainya dan jarang dicabuti rumput halamannya tentu tidak layak ditinggali, apalagi dijadikan tempat usaha. Begitu pula dengan organisasi yang sedang morat-marit ini belum bisa dijadikan tempat bekerja yang nyaman sebelum kotoran-kotorannya dibersihkan dan rumput-rumput liarnya dicerabut. Usaha bertahun-tahun dari penjaga-penjaga rumah sebelumnya untuk memperelok organisasi ini pun juga belum seratus persen berhasil. Lantas apa bedanya saya? Tidakkah saya juga bakal tidak tuntas menyelesaikan bersih-bersih itu? Saya tidak bisa melakukannya sendirian.

Memimpin adalah menderita. Demikian bunyi ujaran dari bahasa Belanda yang sering dikutip oleh Haji Agus Salim dan dinasihatkannya kepada tokoh-tokoh bangsa yang lebih muda seperti Bung Hatta atau Bung Natsir. Sejatinya tugas memimpin adalah menanggung urusan orang lain. Menanggung urusan sendiri saja kadang kita tak mampu, apalagi itu kebanyakan urusan orang yang tidak kita kenal atau bakal berucap terima kasih ketika kita tanggung urusannya. Itu mungkin yang pemimpin sekarang banyak lupa. Tahunya dengan mengambil urusan orang lain maka ia juga akan mengambil hak orang lain itu. Seorang anggota DPR, misalnya, dibebani urusan untuk mengawasi dan memantau kerja pemerintah menggantikan ratusan ribu bahkan jutaan rakyat yang memilihnya. Memang dalam menanggung urusan rakyat, anggota DPR tadi dapat gaji yang tidak sedikit. Tapi, semakin mereka memikirkan gaji dan uang yang mereka terima, berkurang jugalah rasa tanggung jawab mereka terhadap beban untuk mewakili rakyat.

Semoga saya tidak lupa bahwa hak dan keistimewaan yang saya peroleh dari menanggung beban orang banyak itu hanya sepersekian dari tanggungan ratusan penghuni rumah yang harus saya pikul.

Tapi, saat memikirkan hal ini, saya agak tersentil dengan perkataan Tuan Kommer di novel Anak Semua Bangsa. Katanya, jangan seberat satu ton! Bolehlah kuatir soal beban dan tanggungan hidup tapi jangan jadikan itu sebagai alasan untuk pesimis. Sebaliknya, ada bagusnya melihat semua itu sebagai selingan-selingan. Sebagaimana kuliah, sekolah, dan jatuh cinta untuk pertama kalinya, semua hal itu ada masa berlakunya. Begitu pula kegiatan menjaga rumah ini: tidak selamanya akan dilakukan terus. Barangkali ada baiknya sekali-kali jadi tidak serius karena ini pun juga selingan dalam hidup. Bukankah telah dikatan:

Dan tiadalah kehidupan di dunia ini selain permainan dan senda gurau semata. […]

Al-Quran 6:32

Tulisan berikutnya Insyaallah akan lebih konkret dan tidak melayang-layang-sambil-curhat seperti ini. Mohon masukan. Mohon koreksi. Kalau misal tulisan seperti ini berbahaya boleh kiranya usul untuk dihapus saja dan diganti bentuk curhat yang lain.

4 Responses to “Housekeeper’s Notes #01: Leiden is Lijden”


  1. 1 mbincung December 16, 2015 at 10:54

    gonna be checking, managing, and filing your writings regularly.
    and guess what, I agree to accept your request.
    you are not alone; and I hope you’re not (feeling) lonely ^-^

  2. 3 rina saraswati December 16, 2015 at 18:59

    Nice thought!


Problem?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Previous rants

Challenging myself, and you

WordPress Post A Week 2014

Posting every week? Challenge accepted.

Just counting

  • 11,037 marbles

%d bloggers like this: