Menjadi Apatis dan Hedonis

Kita adalah siswa yang dipenuhi istilah dan jargon. Kontribusi, cinta almamater, Smalane sejati, apatisme, hedonisme, kata-kata semacam itu kita jadikan bahan perbincangan, bahan renungan, dan sering juga bahan pengaderan.

Dan sudah pernah kukatakan sebelumnya, banyak yang suka memaknai istilah-istilah semacam ini secara buta. Waktu ada ribut-ribut soal kepanitiaan yang kekurangan dana, apatis dan hedonis ini terkesan dijadikan kambing hitam. “Ini gara-gara Smalane sekarang banyak yang apatis dan hedonis,” kita sering mengatakan seperti itu.

Orang-orang yang lebih suka nge-game atau bersantai di mall daripada mengikuti kegiatan organisasi kita sebut sebagai hedonis.

Orang-orang yang enggan membayar urunan untuk kepanitiaan atau ikut meramaikan lapangan tengah atau venue even OSIS kita sebut sebagai apatis.

Bahkan, apatis dan hedonis ini dijadikan ejekan. Aku pernah mendengar ada yang memanggil dengan kata-kata, “he, apatis!”

Sudahkah kita tahu arti dari apatis dan hedonis?

Anggaplah arti harfiah dari apatis itu tidak peduli dan hedonis itu hura-hura. Tapi apa pemahaman kita sudah benar? Belum tentu. Bisa jadi kita terbias, menganggap kita sendiri lebih tinggi dengan merasa tidak menjadi apatis dan hedonis yang suka kita capkan ke orang-orang yang menurut kita hatinya kurang peka itu.

Mungkin kita lebih merasa tinggi dari mereka yang kita katai apatis dan hedonis. Merasa lebih cinta almamater dari mereka. Merasa  lebih punya jiwa berkontribusi daripada mereka. Merasa lebih berguna daripada mereka yang kita anggap hidupnya percuma di sekolah ini.

Sungguh, kita harus malu kalau beranggapan seperti itu. Apakah kita sendiri sudah tidak apatis dan hedonis?

Mencap orang lain dengan sebutan apatis dan hedonis tanpa mempedulikan perasaan mereka, itu juga apatis.

Terlalu sibuk menikmati acara sampai lalai dengan panggilan untuk beribadah, itu juga hedonis.

Tanpa disadari, kita juga menjadi apatis dan hedonis. Bahkan bisa jadi lebih apatis dan hedonis daripada mereka yang kita sebut seperti itu.

1 Response to “Menjadi Apatis dan Hedonis”


  1. 1 Ical January 8, 2012 at 10:32

    like your quote “Terlalu sibuk menikmati acara sampai lalai dengan panggilan untuk beribadah, itu juga hedonis”


Problem?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Previous rants

Challenging myself, and you

WordPress Post A Week 2014

Posting every week? Challenge accepted.

Just counting

  • 11,006 marbles

%d bloggers like this: