Perihal Penamaan Diri

Dua tahun belakangan, saya selalu mengidentifikasi diri dengan nickname syllachtea dalam berinternet. Bahkan akun Facebook saya pun juga menggunakan nama tersebut sebelum diganti menjadi nama asli. Sebenarnya, nama tersebut muncul begitu saja dari benak saya pada suatu waktu. Secara etimologis tidak bisa dipertanggungjawabkan, demikian pula dengan cara pengucapannya. Saya sendiri mengucapkannya sebagai sylla-chea, tapi ya itu tadi. Asal mula nama tersebut memang tidak ada, sehingga susah sekali untuk mengharapkan orang lain membacanya dengan cara yang sama dengan saya. Ini murni hasil karya neologi khas pengidap thought disorder. Demikian, sehingga ada yang mengucapkannya sebagai syllach-te-a, atau bahkan syllach-tea. Tidak ada yang bisa disalahkan, memang, selain saya sendiri.

Kalau dipikir-pikir, nama yang neologis itu punya sisi baik juga. Orang tidak akan menggunakan nama yang sama dengan yang saya pakai. Namun jeleknya metode ini adalah ketika harus menghadapi pertanyaan, “Dari mana asal mula nama ini?” Tentu saja orang yang ditanya tidak akan mampu menjawab. Lain lagi perkaranya kalau nama-nama ajaib tersebut didapat dari formulasi constructed language, sebab sudah ada media yang menampung etimologi, cara ucap, dan tetek-bengek kebahasaan lainnya.

Lalu ada lagi masalah yang berkaitan dengan jenis kelamin. Sekalipun tidak ada asal yang spesifik dari nama syllachtea, tapi sepertinya nama ini punya kedekatan dengan nama-nama yang berasal dari bahasa-bahasa Slavik. Nah, sejauh yang saya ketahui, nama-nama dalam bahasa Slavik yang berakhiran “-a” kebanyakan merupakan nama perempuan. Jadi kalau ada orang yang membaca nama syllachtea, terkesan bahwa wujud pengguna tersebut di dunia nyata adalah seorang yang terlahir dari kromoson XX. Itulah bodohnya saya™ , yang tidak mengantisipasi hal seperti ini sejak awal. Yah, walaupun pada kenyataannya masalah seperti ini tidak perlu dirisaukan, tetap saja mengganggu saya yang cenderung perfeksionis ini.

Mempertimbangkan hal-hal tersebut, saya sudah dari jauh-jauh hari ingin mengganti nickname yang saya pakai selama ini. Tapi lagi-lagi gagasan ini menemui kendala, yakni sebagai berikut:

  1. Malas.
  2. Malas.
  3. Malas.
  4. Sudah punya akun di mana-mana dengan nama syllachtea.
  5. Tidak adanya ide.
  6. Bingung menentukan bahasa mana yang bisa dipakai.

Tapi toh kalau saya benar-benar mengganti nickname, barangkali kemungkinannya adalah:

  1. Diambil dari rumpun bahasa Indo-Eropa, utamanya Germanik atau Slavik.
  2. Akan dibuat nama lengkapnya, jadi tidak cuma satu kata saja.
  3. Yang pasti, tidak memuat angka atau tanda baca.

Pada akhirnya, saya bukanlah Tuhan yang bisa disebut dengan berbagai nama. Kalau Shakespeare bertanya,

Apalah arti sebuah nama? Meskipun kita menyebut mawar dengan nama lain, wanginya akan tetap harum.

Maka saya hanya bisa menjawab bahwa sebuah nama membedakan wangi bunga Mawar dari bau Rafflesia arnoldi. Seperti pada kenyataan dalam betapa jamaknya jumlah manusia, dan esanya Tuhan. Nama apapun yang kita gunakan untuk menyebut-Nya tidaklah berarti apa-apa, sebab hanya ada satu Tuhan. Seperti cara almarhum Nurcholish Madjid menerjemahkan kalimat syahadat tauhid umat Islam, “Tiada Tuhan melainkan Tuhan itu sendiri.” Akan tetapi pada manusia, kasusnya berbeda. Setiap diri manusia adalah individu yang unik, yang mempunyai kualitas jiwa yang berbeda satu sama lain. Nama seorang manusia membedakan kualitas yang ada pada dirinya dengan kualitas manusia yang bernama lain. Nama Isa Al-Masih membedakan kualitas yang ada dalam diri manusia yang mempunyai nama tersebut dengan kualitas dalam diri manusia bernama Adolf Hitler. Nama Muhammad membedakan kualitas diri manusia suci yang memiliki nama tersebut dengan kualitas diri gembong mafia yang bernama Al Capone. Itulah pentingnya nama untuk sebentuk Homo Sapiens di antara enam milyar individu lainnya yang masing-masing memiliki keunikan tersendiri.

Lah, kok jadi kontemplatif gini?😆

4 Responses to “Perihal Penamaan Diri”


  1. 1 Annasophia March 16, 2010 at 16:50

    Pernah berpikir menggunakan nama Judas atau Abu Jahal?
    Atau menamakan anak “Al-Kafirun” dengan alasan itu nama dari AL-Qur’an xP

  2. 2 syllachtea March 16, 2010 at 17:44

    Kalo gitu saya kasih nama Himar saja, ‘kan ada di Al-Quran juga itu.😆

  3. 3 syllachtea March 26, 2010 at 19:21

    […] bahwa sebuah nama membedakan wangi bunga Mawar dari bau Rafflesia Arnoldi. […]

    Wah, ternyata salah penulisan.😮 *self-nitpicking*

    *edit*

    *kembali belajar IPA*

  4. 4 kyouSama November 27, 2010 at 23:53

    Name=label<title<existence


Problem?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Previous rants

Challenging myself, and you

WordPress Post A Week 2014

Posting every week? Challenge accepted.

Just counting

  • 11,037 marbles

%d bloggers like this: