Krestenisasi™!

Salam damai dan sejahtera.

 

Pertama-tama saya minta semuanya untuk tetap tenang dan menikmati ini dengan kepala dingin.

 

Bangsat. Itu satu kata dari saya untuk orang-orang barusan. Sekalipun secara teologis saya igtheis, saya masih punya hati nurani sebagai muslim. Saya masih ingin ke masjid, tuan-tuan!

 

Ehem, jadi apakah yang membuat saya nggerundel seperti tadi? Ada kejadian menarik sewaktu saya hendak shalat Isya berjamaah di masjid dekat rumah tadi. Jadi ceritanya saya sedang membaca artikel-artikel Encarta, lalu berkumandanglah azan Isya. Saya segera bergegas menuju ke masjid. Di tengah perjalanan saya melihat ada beberapa remaja bergerombol di depan rumah tetangga saya. Ada sekitar tujuh orang, laki-laki, berusia SMA, dan sepertinya keturunan Tiongkok. Mereka tengah serius membicarakan sesuatu, entah apa. Saya hanya berjalan melewati mereka sambil melirik sekali-sekali ke arah mereka. Setelah saya agak jauh dari mereka dan sudah sangat dekat dengan masjid, tiba-tiba orang-orang tadi mengikuti mengikuti saya. Saya kemudian dipanggil oleh salah seorang dari mereka. Saya berhenti dan membalikkan badan. Orang-orang itu kemudian berdiri mengelilingi saya. Njrit, ada apa ini!?๐Ÿ˜ฏ

Seseorang dari mereka : Mas, kira-kira punya masalah, nggak? Biar kita bantu dengan doa.
Si Saya : Wah, kayaknya nggak ada, deh
Seseorang dari mereka : Ya, yang masalah yang kecil, aja. Ada nggak?๐Ÿ™‚
Si Saya : *mau doa kok maksa, ini* Ya sudah, doakan saja keselamatan saya.

 

Orang-orang itu lalu mengarahkan tangan mereka ke saya, lalu komat-kamit membaca sesuatu dengan membawa-bawa nama Yesus dan sebangsanya. Setelah mereka selesai komat-kamit…….

 

Si Saya : Terima kasih ^^
Seseorang dari mereka : *menyodorkan sejenis pamflet* Ya, nanti kalau berminat, silakan datang ke kebaktian [Nganu] ya.
Si Saya : *mengantongi pamflet tersebut* Iya, iya. Terima kasih ^^
*orang-orang tersebut lalu ngeloyor pergi*

 

Saya melanjutkan perjalanan ke masjid dengan hati gusar dan penuh umpatan. Sesampainya di gerbang masjid seorang pengendara motor jamaah masjid (yang kebetulan lewat waktu “event” barusan) menanyai saya.

 

Jamaah masjid : Eh, tadi kamu diapakan sama mereka?
Si Saya : Ah, ndak diapa-apakan, kok.๐Ÿ˜•

Sepulang saya dari masjid, ternyata dua orang dari mereka masih ada di tempat tadi dengan menaiki sepeda motor. Karena ilfil, saya berjalan menjauh dari mereka dan merapat pada sepeda motor jamaah lainnya (yang tadi menanyai saya itu) yang sengaja melambatkan sepeda motornya, mungkin karena mengkhawatirkan saya. Sesampainya di rumah, saya membuka pamflet ybs.โ„ข. Isinya? Tentang undangan kebaktian [Nganu] tadi yang akan diselenggarakan tanggal 14-16 Mei nanti di area Bandara Juanda lama.

 

Saya cuma bertanya-tanya saja. Orang-orang tadi itu pernah diajari kewarganegaraan tidak di sekolah? Saya masih ingat betul salah satu pengamalan pancasila sila pertama, yaitu “tidak mengganggu umat agama lain yang beribadah menurut kepercayaannya”. Boleh-boleh saja mendoakan saya dengan adab Kristiani atau mengundang saya mendatangi kebaktian, tapi mbok ya lihat situasi gitu, lho. Saya percaya kalau telinga mereka tidak tuli sehingga bisa mendengar kumandang azan dari masjid saya. Saya juga yakin mereka tidak dungu, sehingga mereka tahu kemana tujuan saya. Saya harus memilih di antara kedua sikap ini:

 

a. Husnuzan. Mungkin mereka belum tahu tata krama atau belum diajari pelajaran kewarganegaraan.
b. Tsuudzon. Mereka sengaja memprovokasi saya, para jamaah masjid, dan pers media kuning Islam supaya konspirasisme tetap bersarang di pikiran umat Islam. Akhirnya, pihak-pihak oportunislah yang diuntungkan dan umat saya semakin merana[1].๐Ÿ‘ฟ

Saya berharap kedepannya supaya interaksi antar umat seperti ini jangan sampai melanggar norma-norma yang berlaku. Dan jawaban saya untuk tawaran anda-anda yang tadi mendoakan saya adalah: Saya menolak datang ke kebaktian anda, kecuali ada Mbak Cielโ„ข di sana. *dibakar Sora-kun* xD

 

Jadi saya hanya meminta sopan santun saja dari evangelis-evangelis macam tadi, lihat-lihat situasi dan kondisi, lah, kalau mau mengajak komunikasi antar agama seperti tadi. Untuk saudara-saudara seiman, mari kita hadapi semuanya dengan kepala dingin dan dengan berbaik sangka.๐Ÿ˜€

 

Salam damai dan sejahtera.

 

________

 

[1] Ini juga konspirasisme, lho.

15 Responses to “Krestenisasi™!”


  1. 1 rukia^^ May 10, 2009 at 00:29

    *ngakak*

    kasihan amat dirimu nak๐Ÿ˜†

    Di daerah saya juga ada sih yang kayak gitu, cuma bukan Kristen tapi SSY๐Ÿ˜›

  2. 2 Kamerad Syllachtea May 10, 2009 at 01:07

    @rukia

    Apa itu SSY?๐Ÿ˜•

  3. 3 Generasi Patah Hati May 10, 2009 at 10:26

    yah sabar aja bro๐Ÿ˜€
    untung di daerah saya gak ada yang kek begituan๐Ÿ˜€
    btw salam kenal ya๐Ÿ™‚

  4. 4 Kamerad Syllachtea May 10, 2009 at 12:21

    @Generasi Patah Hati

    Hehehe, kalau macam-macam lagi biar saya laporkan ke majelis taklim masjid saya. Rumah saya nggak sampai seratus meter dari sana๐Ÿ™‚

    Salam kenal juga, ya!:mrgreen:

  5. 5 Fiqhi-fang May 16, 2009 at 19:30

    *ngakak*

    eh an,ternyata lucuan tulisannya daripada yang kamu ceritain. BTW u nyuruh aku gak ngomong tentang al-amirah al-qamar,eh kamu malah nulis tentang mbak ciel segala..

    *kejatuhan lemari*

  6. 6 Kamerad Syllachtea May 17, 2009 at 22:25

    @Fiqhi-fang

    Maksud saya jangan bicara begitu di institusi pendidikan, lah. Saya ‘kan sungkan jadinya๐Ÿ˜

  7. 7 Rukia May 23, 2009 at 20:36

    @ Kamerad Syllachtea

    Apa itu SSY?

    silakan link 1, link 2

  8. 8 Kamerad Syllachtea May 24, 2009 at 07:18

    @Rukia

    Hohohoho, Terima kasih link-nya:mrgreen:

  9. 9 bagio July 16, 2009 at 14:25

    sepertinya mereka kurang kerjaan ya, sabar aja mas maklum mereka pengangguran !!, mo nyrobot lahan parkir takut ma preman yang ada, jadi ya ngompasin orang kemasjid, gitcu kali..

  10. 10 Kamerad Syllachtea July 19, 2009 at 07:22

    @ bagio

    Bener juga, ya.๐Ÿ˜†

    BTW, salam kenal.๐Ÿ™‚

  11. 11 ghea September 13, 2009 at 09:10

    wkwkwkwkwkwkwkwk

    Ah, lucu de [ngakak terus]

    tapi untungnya di rumahku gada yang begituan [fiuuh]

  12. 12 Syllachtea October 27, 2009 at 16:05

    ^
    Bah! Di sini perumahan penggemar babi semua!๐Ÿ˜

  13. 13 Annasophia November 27, 2009 at 20:46

    Apa sih enaknya masjid selain buat tidur siang di kala tidak ada kuliah? *ditimpuk*

    btw

    a. Husnuzan. Mungkin mereka belum tahu tata krama atau belum diajari pelajaran kewarganegaraan.

    Ini kok buat saya bentuk Su’udzan juga ya? Berpikiran buruk bahwa mereka seolah belum punya pengetahuan tentang itu. Lagian menurut saya itu belum bentuk pemaksaan, gangguan terhadap ibadah agama lain deh. Sesuai dengan cerita yang Anda tulis di sana, menurut saya kalau semisalnya, ketika hari H itu sekumpulan pemuda itu menyatroni rumah Anda dan menarik paksa baru itu saya sbeut pemaksaan.๐Ÿ™‚
    Kalau hanya seperti yang ada di cerita sepertinya masih dalam taraf wajar. Bisa ditolerir?๐Ÿ˜•

    Saya justru lebih terganggu sama sekumpulan pemuda yang sering banget narik-narik saya buat ikut mentoring di masjid. Buat saya ini justru lebih parah dari itu, meski di KTP saya masih sama tulisannya.

  14. 14 Syllachtea November 27, 2009 at 21:47

    Ini kok buat saya bentuk Suโ€™udzan juga ya? Berpikiran buruk bahwa mereka seolah belum punya pengetahuan tentang itu. Lagian menurut saya itu belum bentuk pemaksaan, gangguan terhadap ibadah agama lain deh.

    Saya mengikuti golden rule bahwa batas toleransi itu adalah sampai masalah peribadahan. Nah, dalam kasus ini saya sudah diajak ke dalam peribadahan agama lain. Ini yang saya anggap menodai toleransi.๐Ÿ˜•

  15. 15 Annasophia November 28, 2009 at 20:05

    Buat saya sih masalah ajak-mengajak selama ajakannya bukan berupa paksaan itu enggak apa-apa deh. Zaman saya di TK, setiap Jumat itu ada kewajiban choir untuk setiap murid. Ah, TK saya itu memang agak religius, bukan Islam di mana agama saya di KTP memang Islam dari dulu. Bukankah itu bentuk pemaksaan? Memang saat itu saya ada di tanah yang hukumnya berbeda tapi buat saya pribadi yang mengalami bahwa saya sama sekali tidak merasakan adanya paksaan, hanya ajakan dan aturan sekolah, jadi saya tidak keberatan. Timbal baliknya ketika jam makan siang dan saat itu sedang Ramadhan pun bagi mereka yang berpuasa dipisahkan untuk menghormati.

    Intinya sih cuma masalah batasan ajakan-paksaan itu sih, haha. Jadi curcol gini.


Problem?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Previous rants

Challenging myself, and you

WordPress Post A Week 2014

Posting every week? Challenge accepted.

Just counting

  • 11,006 marbles

%d bloggers like this: