Housekeeper’s Notes #03: Hati dan Organisasi

Organisasi semacam himpunan sejatinya adalah organisasi sukarela, volunteering. Bapak ilmu manajemen, Peter F. Drucker, menyebut para relawan sebagai pekerja yang paling memiliki dedikasi. Peluh yang mereka keluarkan tidak berbahan bakar uang atau kekuasaan, tapi semata-mata tujuan mereka adalah keinginan untuk memajukan organisasi. Ketika para relawan ini lulus dari bangku kuliah, mereka akan menjadi pekerja yang punya daya tahan, motivasi yang lebih baik, dan kemahiran sosial yang lebih tinggi daripada rekan-rekannya yang tidak berorganisasi.
Setidaknya, begitulah yang semestinya terjadi. Apakah organisasi kita sudah menghasilkan kader-kader pekerja yang punya daya tahan tinggi?
 Tidak juga.
 Pembaca pasti sudah kenal stereotip panitia MOS atau Ospek yang lagaknya sok-sok kaku, bersuara lantang, tapi sebenarnya tebar pesona. Mungkin juga pembaca yang berorganisasi pernah mendapati orang yang dalam rapat tampak menggebu-gebu dan berkarisma tapi sejatinya mencari “mangsa” atau berusaha mengundang tepuk tangan dari teman-temannya. Mau kita akui atau tidak, semua orang tampaknya punya kepentingan pribadi. Apalagi, karena kerja sukarela tidak ada insentifnya, orang-orang dalam organisasi akan berusaha mencari reward-nya dengan cara mereka sendiri. Entah itu dalam bentuk pertemanan, percintaan, sampai akses ke orang-orang dan informasi penting di kampus (yang paling klasik: dosen dan perkuliahan). Ketika reward yang mereka cari itu tidak mereka temukan, maka mereka akan mundur teratur dengan sendirinya dari organisasi kita.
 Satu hal yang saya pahami setelah berorganisasi beberapa lama adalah bahwa kepentingan organisasi pasti akan berbenturan dengan kepentingan diri sendiri. Saya ingin santai-santai menonton serial TV, membaca buku simpanan di hari sabtu dan minggu, atau melakukan kerja sambilan, tapi ada rapat atau kegiatan yang wajib dihadiri. Padahal, di rapat atau kegiatan itu saya tidak betul-betul punya andil selain untuk meramaikan saja. Idealnya sih memang semua orang punya suara dan peran dalam rapat. Tapi, let’s face it, berapa banyak sih orang yang mau berpartisipasi aktif di rapat seperti itu? Oleh karena itu, dalam benak saya, seorang organisator yang ideal adalah mereka yang dengan sukahati mau mengesampingkan kepentingan pribadi mereka demi kepentingan organisasi dan teman-teman mereka di sana.
 Teman-teman dan senior-senior saya waktu SMA punya istilah yang cukup sarkastik untuk organisator semacam ini: orang bodoh. Hanya orang bodoh yang mau diganggu akhir minggunya untuk datang rapat di siang bolong di hari sabtu tanpa diberi imbalan apa-apa. Hanya orang bodoh yang bisa berbulan-bulan bekerja keras untuk suatu acara tanpa diberi ucapan terima kasih dan penghargaan hanya untuk kemudian disuruh lagi membuat laporan pertanggungjawaban. Hanya orang bodoh yang rela memperjuangkan kepentingan teman-temannya yang mungkin tidak peduli hasil kerjanya, bahkan mungkin mencemooh dirinya di belakang.
 Saya tidak setuju menyebut hal-hal tadi sebagai kebodohan dan orang-orang yang melakukannya sebagai orang bodoh. Lebih tepat untuk menyebutnya sebagai pengorbanan. Tapi toh mungkin juga dikatakan, “Pengorbanan dan kebodohan itu bedanya tipis sekali.” Memang betul. Kadangkala orang yang berkorban demi sesamanya akan merasa bodoh, seolah kerja demi orang lain itu hanya membuang-buang waktunya saja. Sebaliknya, orang yang benar-benar bodoh akan merasa berkorban walaupun sebenarnya pengorbanannya itu tak seberapa.
 Kerja organisasi memang lebih banyak tidak bisa dinalarnya. Mengurus organisasi non-profit bukan cuma berkutat pada mengatur-atur masalah teknis, malah ada masalah yang lebih penting, yaitu hati. Seperti yang kita tahu, bicara soal hati memang jatuhnya akan ribet dan tidak karuan. Kent M. Keith, dalam buku kecilnya yang ditujukan pada aktivis mahasiswa di Amerika Serikat pada tahun 60-70an, menuliskan suatu manifesto yang ia beri judul “Perintah-Perintah yang Tak Masuk Akal.” Bunyinya sebagai berikut:
 
Orang lain itu tak logis, tak bisa diajak berpikir, dan mementingkan dirinya sendiri.
Tetaplah mencintai mereka.
Jika kamu berbuat baik, orang akan menuduhmu punya maksud tersembunyi.
Tetaplah berbuat baik. 
Jika kamu beroleh keberhasilan, maka kamu akan mendapat kawan palsu dan musuh sejati.
Tetaplah meraih keberhasilan. 
Kebaikan yang kamu lakukan hari ini akan dilupakan esok hari.
Tetaplah berbuat baik. 
Berkata jujur dan berterus terang akan membuatmu rentan.
Tetaplah jujur dan terus terang. 
Manusia berhati besar dengan pemikiran terbesar bisa dijatuhkan manusia berhati kecil dengan pemikiran terkecil.
Tetaplah berpikir besar. 
Orang kasihan pada yang tertindas tapi hanya mau turut yang berkuasa di atas.
Tetaplah membela yang tertindas. 
Yang kamu bangun selama bertahun-tahun bisa hancur dalam semalam.
Tetaplah membangun. 
Orang lain sungguh perlu kamu tolong, tapi jika ditolong mereka bisa menikammu.
Tetaplah menolong orang lain. 
Berikan yang terbaik bagi dunia dan mukamu akan diinjak-injak.
Tetaplah memberi yang terbaik bagi dunia.
Sepintas, memang kata-kata di atas tampak menjadi sesuatu yang ideal dan perlu kita tiru. Tapi, saya pun pada akhirnya juga ragu. Apakah ada orang yang bisa mengamalkan kata-kata di atas huruf demi huruf? Bukannya orang yang bisa melakukan hal seperti di atas itu namanya sudah bukan lagi manusia melainkan malaikat? Bahkan, saya pun tak yakin penulisnya juga sanggup berbuat seperti yang ditulisnya (terbukti sampai saat ini kita-kita juga masih asing dengan nama Kent M. Keith.)
Sebenarnya, sejauh apakah kita harus menyumbangkan hidup kita demi kepentingan sesama? Apa seorang relawan-organisator harus terus-terusam membarter urusan pribadinya untuk organisasi? Bagaimana kita bisa mencoba untuk hidup berdampingan dengan orang lain tanpa harus banyak saling menyakiti untuk mempelajarinya?
Sampai tulisan ini saya teruskan, biarlah pembaca dulu yang menyusun jawabannya.

Kepada Para Wanita, Sepanjang yang Kutahu

Ini adalah terjemahan saya atas puisi David Herbert Lawrence yang berjudul To Women, As Far as I’m Concerned. Dari judulnya saja sudah kelihatan bagaimana sikap beliau pada perempuan. Ini juga terlepas dari dugaan bahwa D.H. Lawrence punya kecenderungan homoseksual. Pengarang ini semasa hidupnya dianggap tidak bermoral dan karya-karyanya dicap sampah. Hanya ketika ia meninggal di usia dinilah akhirnya berangsur-angsur reputasinya membaik dan sekarang menjadi salah satu pengarang Inggris yang masyhur. Setelah membaca puisi ini, saya dapati kekuatan D.H. Lawrence berbicara soal hal-hal yang halus tapi dengan gaya yang tegas dan no-nonsense. Mungkin suatu saat saya akan baca novel-novel karyanya.

Tapi, lebih baik pembaca simpulkan sendiri. Silakan dinikmati, syukur-syukur mau sekalian mencermati terjemahan saya dan membandingkan dengan aslinya. Selamat membaca!

Sumber gambar dari sini.

 

 

Kepada Para Wanita, Sepanjang yang Kutahu
D.H. Lawrence (1885-1930)

Rasa yang aku tak punya
memang aku tak punya.
Rasa yang aku tak punya
takkan kubilang aku punya.
Rasa yang kau bilang kau punya
kau tak punya.
Rasa yang kau ingin kita punya
kita berdua tak punya.
Rasa yang harusnya orang punya
mereka tak pernah punya.
Kalau orang bilang mereka punya rasa,
yakinlah mereka juga tak punya.

Jadi, kalau kau ingin kita salah satu punya rasa,
Baiknya kautinggalkan saja semua omongan tentang rasa itu.

Sajak-sajak tanpa nama

Catatan dikit:
Ini hasil mengumpulkan catatan-catatan dari zaman jahiliah. Memang kalau dirasa-rasa sekarang jadi terlalu sentimental. Ditanya maksudnya apa, saya pun sudah agak lupa. Tapi, timbang saya, daripada jadi himpunan kata-kata mubazir mending dihibahkan saja untuk memelihara blog yang sudah hidup-segan-mati-tak-mau ini.

/1/

dalam hitam kelam
wajahmu semakin muram
barangkali tak kuasa menahan
guncang yang masih senyap
lalu pucat pasi
dan hilang disambut
rayuan malam

/2/

saat langit-langit terbujur kaku
dan lantai kasur tak menjawab padaku
pudarlah semua kata
walau belum terucap
nah, masihkah aku mengharap
rinduku akan menginap di sisimu?

/3/

makin lama terhimpit
kalau perlu hentakkan kaki
mencari arti dan apa lagi
tapi aneh: semua tenang saja
tiada hingar bingar
tidak perlu siapa-siapa

/4/

entah sehari, entah dua hari
mungkin berminggu-minggu lagi
semua harapmu tak kunjung kemari
lalu pupus dan sekalian pergi

/5/

meski rupamu yang ingin kurengkuh
hanya bayangmu yang mampu kudekap
kerlapan sinar matamu yang membias
ruang hati kecil di sisi kalbuku
walau kelak manis ini tak abadi
setidaknya telah kaukenalkan aku
pada laku-lampahnya dunia
dan kau ledakkan lidahku
yang biasa dengan tawarnya
keseharian

/6/

ka u sel alu me mint aku m enge ja s et iap
k ata mesk i k au tah u a ku bi sa
me ngiri ngim u t anp a
ta nd a bac a

/7/

kelak desir waktu yang bakal bertiup
membawa kapal ke negeri tak dikenal
kelak gemerlap bintang yang akan bersinar
menuntun hati melintas lautan
sedih dan menyesal, tak usahkan
cukuplah bekal doa dan kenangan
dan di bibir dermaga
biar kita bertemu kembali

Gadis Dandelion – 4

Catatan dikit:

  1. Cerita ini adalah terjemahan serampangan saya dari The Dandelion Girl karangan Robert F. Young. Aslinya ini bukan cerita bersambung, tapi untuk mengurangi prokrastinasi saya memecahnya jadi enam bagian. Selain itu, cerita ini diterjemahkan bersambung biar yang baca penasaran supaya saya juga terpacu untuk menyelesaikan.
  2. Seperti yang sudah dibilang tadi, ini terjemahan serampangan. Akan banyak perbedaan diksi dan gaya bahasa antara terjemahan ini dengan cerita aslinya. Maklum masih amatiran. Jadi, tolong kasih saran dan kritik, ya.😉
  3. Bagian-bagian lain dari terjemahan ini:
    Bagian 1
    Bagian 2
    Bagian 3
    Bagian 4
    Bagian 5
    Bagian 6

Keesokan harinya ia melaju ke dusun dan bertanya ke kantor pos apakah ada surat untuknya. Nihil. Itu hal biasa untuknya. Jeff sama-sama tidak suka menulis surat seperti dirinya, sementara Anne saat ini mungkin tidak bisa dihubungi. Adapun untuk praktik kerjanya sendiri, ia telah melarang sekretarisnya untuk mengganggunya dengan surat-surat kecuali untuk urusan yang benar-benar genting.

Dia berdebat dalam hati apakah harus bertanya kepada sang kepala kantor pos yang sudah sepuh tentang keberadaan sebuah keluarga yang bernama Danvers di sekitar situ. Ia putuskan untuk tidak bertanya. Dengan bertanya, Mark akan mengkhianati seluruh rangkaian cerita meyakinkan yang sudah dituturkan oleh Julie. Meski dia tidak yakin dengan semua cerita itu, ia tidak tega membiarkan bangunan kepercayaan itu runtuh di depan matanya.

Sore itu, Julie mengenakan gaun kuning warna yang sama seperti rambutnya. Lagi-lagi tenggorokan Mark menegang ketika ia melihatnya. Lagi-lagi dia tidak kuasa untuk bicara. Namun ketika saat-saat pertama berlalu dan kata-kata telah terujar, semua jadi baik-baik saja, dan pikiran mereka berdua mengalir bersama seperti dua sungai kecil yang gemericik dan mengalir dengan riang menuju tepian sore hari. Kali ini, ketika mereka berpisah, Julielah yang bertanya, “Apa besok Anda ke sini?” – meskipun itu hanya karena dia mencuri pertanyaan dari bibir Mark-dan kata-kata itu bernyanyi di telinganya sepanjang perjalanan kembali lewat hutan menuju kabin, melenakannya hingga tertidur selepas malam yang dihabiskan dengan mengisap pipa rokok di pelataran.

Sore harinya ketika dia mendaki, bukit itu tampak kosong. Pada awalnya kekecewaannya membuat dia mati rasa, namun ia menggumam, Dia cuma terlambat. Dia akan muncul sebentar lagi. Mark lalu duduk di bangku granit sambil menunggu. Tapi Julie tidak juga datang. Menit demi menit, jam demi jam berlalu. Bayang-bayang gelap merayap dari hutan dan mendaki ke atas bukit. Udara semakin dingin. Dia menyerah, akhirnya, dan dengan lesu berjalan kembali ke kabin.

Sore hari berikutnya dia tidak muncul juga. Juga sore yang berikutnya. Mark tidak bisa makan atau pun tidur. Memancing sudah tak lagi membuatnya bersemangat. Ia tidak lagi bisa membaca. Selagi itu semua terjadi, ia membenci dirinya sendiri, membenci sikapnya yang seperti bocah kasmaran, yang bersikap seperti seorang bodoh di usia empat puluhan hanya karena seraut muka yang cantik dan sepasang kaki yang indah. Sampai beberapa hari silam, dia bahkan tak pernah betul-betul memerhatikan perempuan lain, dan sekarang dalam waktu kurang dari seminggu dia tidak hanya memerhatikan namun sudah jatuh hati dengan Julie.

Harapan telah pudar dalam hatinya ketika ia mendaki bukit di hari keempat–lalu tiba-tiba hidup lagi ketika ia melihat Julie berdiri menghadap matahari. Dia mengenakan gaun hitam kali ini. Mark harusnya bisa menebak alasan menghilangnya dia, tapi Mark tak sadar sampai ia datang padanya dan melihat airmata mulai menetes dari matanya dan getaran bibirnya yang menyingkapkan suatu tanda. “Julie, ada apa?”

Dia menempel padanya dengan bahunya yang gemetar, dan menempelkan wajahnya ke mantelnya. “Ayah saya meninggal,” katanya, dan entah bagaimana, ia tahu bahwa ini adalah air mata pertamanya, bahwa ia telah duduk menahan air mata selama perkabungan dan pemakaman, dan bahwa tangisan itu berhasil ia bendung hingga barusan.

Mark memeluknya dengan lembut. Dia tidak pernah menciumnya, dan dia tidak akan menciumnya sekarang, tidak juga. Bibir Mark menyeka dahinya dan sekilas menyentuh rambutnya– itu saja. “Maaf, Julie,” katanya. “Aku tahu betapa berartinya dia untukmu.”

“Dia selalu tahu dia sudah akan dijemput,” katanya. “Dia pasti tahu itu sejak eksperimen stronsium 90 yang dia lakukan di laboratorium. Tapi dia tak pernah bilang siapa-siapa– bahkan aku … Aku tak ingin hidup. Kalau tak ada dia, hidup ini sudah tidak ada artinya lagi– tidak, tidak, tidak!”

Mark mendekapnya erat-erat. “Kamu akan menemukan sesuatu, Julie. Seseorang. Kamu masih muda. Kamu masih anak-anak, sungguh. ”

Kepalanya tersentak kembali, dan tanpa linangan di matanya ia menatap Mark. “Aku bukan anak kecil! Jangan sekali-kali panggil aku anak kecil!”

Terhenyak, Mark melepaskannya dan melangkah mundur. Mark belum pernah melihatnya marah sebelumnya. “Bukan maksudku–” ia mengawali.

Kemarahan Julie begitu cepat berlalu karena munculnya tiba-tiba “Saya tahu Pak Randolph tidak bermaksud menyakiti perasaan saya. Tapi saya bukan anak-anak, sungguh bukan. Berjanjilah Anda tidak akan memanggil saya begitu lagi. ”

“Baiklah,” kata Mark. “Aku janji.”

“Dan sekarang saya harus pergi,” katanya. “Saya punya seribu satu hal yang harus dikerjakan.”

“Apa– apa kamu besok ke sini lagi?”

Dia menatap Mark lama sekali. Sejenis kabut, seperti yang biasa terlihat ketika hujan di musim panas, membuat matanya yang biru berbinar. “Mesin waktu bisa rusak,” katanya. “Ada bagian-bagian yang perlu diganti–dan saya tidak tahu cara menggantinya.” Mesin waktu kami– mesin waktuku bisa saja dipakai untuk jalan sekali lagi, tapi saya tidak yakin.”

“Tapi kamu akan berusaha datang lagi, kan?”

Dia mengangguk. “Ya, akan saya coba. Dan Pak Randolph? ”

“Ya, Julie?”

“Hanya jaga-jaga saja kalau saya tak bisa kembali–dan supaya tahu saja–saya mencintaimu.”

Review: Jepang: Dulu dan Sekarang

Jepang: Dulu dan Sekarang
Jepang: Dulu dan Sekarang by Taro Sakamoto

My rating: 2 of 5 stars

Pengantar singkat tentang sejarah Jepang mulai Kerajaan Yamato hingga akhir Perang Dunia II. Isinya sendiri cenderung kaku, informasinya diulang-ulang tapi banyak istilah yang sebelumnya tidak dijelaskan. Terlebih, nada buku ini sangat Jepang-sentris karena pengarangnya sendiri orang Jepang. Tapi, pengantar kritis dari Mochtar Lubis bisa dijadikan pegangan agar tidak terlalu terbawa dalam narasi buku ini. Menurut saya, pengantar itu malah lebih penting daripada isi bukunya sendiri.

View all my reviews

Review: HBR’s 10 Must Reads on Leadership

HBR's 10 Must Reads on Leadership
HBR’s 10 Must Reads on Leadership by Harvard Business School Press

My rating: 4 of 5 stars

Who deserves to be called a leader? Why should it be him or her? And what do leaders do anyway?

People have been arguing about the ideal leader. It’s normal. If we all agreed on the concept of leadership, then we would not have to hold elections or support one person over the other to represent us. This book illuminates my understanding of leadership and leaders.

In essence, each article in this compilation gives differing and sometimes competing definitions of leadership. Daniel Coleman sees that a leader has higher emotional intelligence than others, while Kotler maintains that the work of a leader is to steer people through change. According to Jim Collins, truly great leaders face their lives with humility and don’t draw attention to themselves, but Goffee and Jones insists that a leader should put forward some characteristics that set them apart from other people. Peter F. Drucker, interestingly, throws away the notion of a “leader” and believes that everyone should be able to be an executive (i.e. completing tasks in an organization) regardless of their personality or interpersonal influence if they followed several rules.

After repeatedly reading each chapter, though, I have begun to understand that what makes a leader is very dependent on the situation. There is no perfect leader for all things to all peoople. Rather, there are leaders for particular organizations, particular peoples, and particular times and places. Perhaps we should be satisfied sticking to those various definitions of leadership because they seem to represent these differing contexts.

This book is not intended as a “how to be a leader” for leaders or anyone who seeks to gain a position of leadership. Rather, the readings should give them an insight on how they should dedicate their effort and exercise their influence over their organizations and people. In that case, I found this book really enlightening.

View all my reviews

Housekeeper’s Notes #02 : Sumbangan Hidup

Pada suatu titik, saya merasa jenuh dengan semua pekerjaan yang harus ditunaikan. Buat apa, misalnya, pagi-pagi saya harus bangun, berdoa, lalu seolah dikejar polisi ngebut ke kampus. Sepulang itu, larut malam, aku masih harus membaca buku-buku dan materi sembari mengerjakan tugas yang tampak hanya jadi tumpukan tulisan saja. Di antara berangkat dan pulang pun, saya masih harus mengurus keperluan yang sebetulnya tidak perlu-perlu betul saya lakukan dan bisa saja saya tolak. Buat apa capek-capek berpikir cara mengadakan acara yang belum tentu orang tertarik ikut atau memutar otak mencari dalih untuk mengajak satu-dua teman untuk ikut kegiatan? Mengapa saya harus tahan mendengar protas-protes dan keluhan tanpa henti yang mestinya bisa saya hindari?

Dengan keluhan di atas, tentu saya juga sadar bahwa semua orang juga pada dasarnya mengalami kesulitan yang tak kalah pelik. Toh, sejujurnya, saya masih jauh lebih beruntung ketimbang jutaan orang lain yang lebih naas. Sementara saya punya cukup uang untuk membeli makanan yang enak-enak, ada penjual koran yang kebingungan bagaimana cara menghabiskan jajaannya sehingga keluarganya tidak kelaparan. Ketika saya bisa tidur nyenyak di kamar sendiri, banyak orang di Suriah yang mungkin tidurnya di gua-gua sembari menghitung hari sebelum dipancung atau dibakar hidup-hidup. Orang yang bisa membaca tulisan ini mestinya juga sudah jauh lebih beruntung dari, setidaknya, orang yang tunanetra ataupun tunaaksara. Intinya: kita ini harus bersyukur masih diberi tangguh untuk hidup sebagaimana biasanya.

Tapi, kita pakai buat apa hidup kita yang “biasa” ini? Mau kita apakan kesempatan kita? Apa hidup ini hanya sekadar sekolah/kuliah/bekerja di hari Senin-Jumat lalu bersenang-senang hari Sabtu-Minggu, begitu terus sampai ajal tiba? Cukupkah kita menerima tugas dan perintah dari atasan atau menulis makalah suruhan dosen dan menjadi puas dengan itu? Nyatanya, orang cenderung bosan dengan hal-hal biasa dan ingin sesuatu yang membuat mereka puas. Kita cenderung ingin punya keunikan dan tidak mau sama dengan orang lain. Agaknya, tidak ada yang bakal menyangkal nasihat Steve Jobs, “Waktu Anda terbatas, jadi jangan pergunakan waktu itu untuk menghidupi hidupnya orang lain.”

Oleh karena itulah kepuasan dan keunikan sering dijadikan orang sebagai tujuan hidupnya. Kafe-kafe, bioskop-bioskop, pusat-pusat perbelanjaan sampai gunung-gunung, hutan-hutan, dan lautan dijajaki untuk mencari kepuasan dan kebanggaan diri. Semua orang ingin punya pengalaman yang berbeda dari orang lain. Itulah mengapa kita sekarang terus-terusan dibombardir ratusan check-in, foto, video, dan cerita di linimasa media sosial kita, demikian juga kita sendiri ingin menunjukkan sesuatu yang berbeda dari yang dimiliki orang lain. Orang berlomba-lomba mencari reputasi, kekayaan, dan kekuasaan. Mahasiswa berusaha memanjang-manjangkan CV-nya dengan sederet kegiatan dan pekerjaan.

Tidak ada salahnya itu, sebab kita sebagai manusia memang punya kebutuhan yang perlu dipuaskan.Tapi, dari situ jugalah orang mulai berpikir bahwa makna hidup ini adalah mencari kepuasan demi kepuasan. Dalam proklamasi kemerdekaannya, orang Amerika berusaha untuk hidup, bebas, dan mengejar kebahagiaan. Akhirnya, orang lupa bahwa yang namanya kepuasan dan kebahagiaan itu hanyalah suatu keadaan yang bisa datang dan pergi, sama seperti rasa lega dan kenyang. Ketika mereka tidak lagi merasa puas atau bahagia dengan yang mereka peroleh sekarang, maka mereka mencari kepuasan-kepuasan yang lebih tinggi lagi, yang juga semakin susah untuk didapatkan. Jadilah orang bertambah serakah dan berebut satu sama lain. Yang menang akan jadi makin rakus, sementara yang kalah akan kembali menjadi tidak puas dan tidak bahagia. Ketika kepuasan yang jadi tujuan hidup itu hilang, maka seketika itulah orang mulai merasa bahwa hidup mereka tidak lagi diperlukan. Itulah mengapa kita sebagai umat manusia semakin maju dan semakin hidup layak, tapi semakin banyak pula orang yang mengakhiri hidupnya sendiri.

Lantas, kita harus punya tujuan hidup yang seperti apa?

Pastor Rick Warren, seperti kita, juga bergelut dengan masalah tujuan hidup. Namun, beliau akhirnya sampai pada kesimpulan yang ia tulis dalam buku The Purpose-Driven Life. Karangan yang laku keras itu diawali dengan pernyataan, “It’s not about you.” Hidup itu bukan soal dirimu. Sebaliknya, hidup ini adalah soal apa yang kita lakukan untuk orang lain, untuk sesama. Dengan begitu, kita tidak terjebak rasa tamak karena kita tidak menjadikan diri sendiri sebagai patokan.

Tidak heran jika orang-orang yang purpose-driven atau bertujuan hidup untuk orang lain memiliki daya tahan yang luar biasa terhadap masalah dan kesulitan. Jika orang hanya mencari kekayaan atau ketenaran diri semata, maka ia akan patah semangat dan kehilangan arah begitu hartanya ludes atau nama baiknya dirusak. Orang yang membaktikan hidupnya demi orang lain tidak bakal surut berpantang meski reputasi, orang terkasih, atau bahkan nyawanya sendiri terancam. Orang semacam ini punya ikrar, manifesto, atau komitmen untuk berjuang demi orang lain dan bukan dirinya sendiri.

Bung Karno punya apa yang ia sebut dedication of life atau sumbangan hidup yang sempat terkenal beberapa waktu lalu saat dibacakan oleh (waktu itu) calon presiden Joko Widodo. Bunyinya:

Saya adalah manusia biasa
Saya tidak sempurna
Sebagai manusia biasa, saya tidak luput dari kekurangan dan kesalahan
Hanya kebahagiaanku ialah dalam mengabdi kepada Tuhan, kepada Tanah Air, kepada bangsa
Itulah
dedication of life-ku
Jiwa pengabdian inilah yang menjadi falsafah hidupku, dan menghikmati serta menjadi bekal hidup dalam seluruh gerak hidupku
Tanpa jiwa pengabdian ini saya bukan apa-apa
Akan tetapi, dengan jiwa pengabdian ini, saya merasakan hidupku bahagia dan manfaat.

Sumbangan hidup seperti inilah yang membuat saya tersadar dari kejenuhan sehari-hari. Saya diingatkan bahwa segala jerih payah yang saya kerjakan itu bukanlah kembali ke diri sendiri, namun yang lebih penting, adalah demi kebaikan orang lain.

Tumpukan tugas yang saya kerjakan atau kelelahan saya mengejar kelas-kelas itu bukan buat diri saya, tapi paling tidak demi keluarga yang telah membesarkan saya dengan sungguh-sungguh. Gelar sebagai orang terdidik, yang semoga nanti saya dapat, harus dibaktikan untuk masyarakat yang sudah berinvestasi pajak atau bahkan sumbangan untuk memelihara sistem pendidikan di negara ini.

Ketika saya dilanda kelelahan dan kejenuhan saat bekerja untuk meyakinkan orang lain, saya sadar bahwa itu bukanlah untuk nama saya sendiri. Tujuan saya semata-mata hanyalah untuk menyadarkan bahwa mereka punya arti lebih dari sekadar hidupnya sendiri dan bahwa mereka dibutuhkan oleh sesamanya.

Saya mungkin belum bisa menuliskan sumbangan hidup sendiri, sebab itu butuh pertimbangan dan pengalaman yang sangat panjang. Namun, bolehlah jika sekarang ini saya sekadar mengutip dan meminjam semangat dari petikan ujaran senior-senior saya semasa SMA dulu:

Saya belajar untuk menjadi apa yang saya mau,
bukan untuk diri saya, tapi untuk mereka dan dunia […]
Jalanku adalah panjang dan berliku,
sementara langkahku hanya mampu satu demi satu.
Tapi, tekadku tidak pernah ragu.
Bahkan, jika nanti aku terkalahkan takdir,
akan kupastikan pengorbanan itu membuka jalan untuk penerusku.
Aku bukan pemimpin terbesar, bukan manusia terhebat.
Tapi, pasti ‘kan kutulis kebajikan-kebajikan di atas pasir,
agar angin keikhlasan menerbangkannya jauh dari ingatan,
agar ia terhapus, menyebar bersama butir pasir ketulusan,
karena aku bukanlah apa-apa melainkan seorang hamba.

Dengan nama Tuhanku, aku memulai perjuangan ini.


Previous rants

Challenging myself, and you

WordPress Post A Week 2014

Posting every week? Challenge accepted.

Just counting

  • 11,037 marbles