Wind of Change (Scorpions)

Lagu ini pertama kali dirilis tahun 1991. Wind of Change langsung menjadi fenomenal menyusul digulirkannya kebijakan Glasnost Uni Soviet, yang berujung pada reunifikasi Jerman dan peruntuhan Tembok Berlin serta diakhirinya Perang Dingin yang sudah berlangsung selama lebih dari empat dekade. Pada pemilu AS kemarin, lagu ini sempat digunakan Barrack Obama sebagai media kampanye, sesuai dengan slogan kampanyenya `Yes We Can`. Frasa `Wind of Change` sendiri berasal dari pidato politik Perdana Menteri Britania Raya Harold MacMillian tahun 1960.

Apa, soal aransemen? Saya tidak begitu kenal ilmu musik, jadi hanya bisa bungkam saja. xP

I follow the Moskva
Down to Gorky Park
Listening to the wind of change
An August summer night
Soldiers passing by
Listening to the wind of change

The world closing in
Did you ever think
That we could be so close, like brothers
The future’s in the air
I can feel it everywhere
Blowing with the wind of change

Take me to the magic of the moment
On a glory night
Where the children of tomorrow dream away
In the wind of change

Walking down the street
Distant memories
Are buried in the past forever
I follow the Moskva
Down to Gorky Park
Listening to the wind of change

Take me to the magic of the moment
On a glory night
Where the children of tomorrow share their dreams
With you and me
Take me to the magic of the moment
On a glory night
Where the children of tomorrow dream away
In the wind of change

The wind of change blows straight
Into the face of time
Like a stormwind that will ring
The freedom bell for peace of mind
Let your balalaika sing
What my guitar wants to say

Take me to the magic of the moment
On a glory night
Where the children of tomorrow share their dreams
With you and me

Take me to the magic of the moment
On a glory night
Where the children of tomorrow dream away
In the wind of change

Quotations (1)

I wanted to know… Why our world is so terminally distorted?
Where did the distortion come from?
Why there are people who are unconsciously evil?
Why people don’t know that their evil hurts others?
Why is humanity an existence that only conflicts with itself?
Why are there people to rule, and those who are ruled?
Why do we wound each other?

Setsuna F. Seiei, Mobile Suit Gundam 00

Krestenisasi™!

Salam damai dan sejahtera.


Pertama-tama saya minta semuanya untuk tetap tenang dan menikmati ini dengan kepala dingin.


Bangsat. Itu satu kata dari saya untuk orang-orang barusan. Sekalipun secara teologis saya igtheis, saya masih punya hati nurani sebagai muslim. Saya masih ingin ke masjid, tuan-tuan!


Ehem, jadi apakah yang membuat saya nggerundel seperti tadi? Ada kejadian menarik sewaktu saya hendak shalat Isya berjamaah di masjid dekat rumah tadi. Jadi ceritanya saya sedang membaca artikel-artikel Encarta, lalu berkumandanglah azan Isya. Saya segera bergegas menuju ke masjid. Di tengah perjalanan saya melihat ada beberapa remaja bergerombol di depan rumah tetangga saya. Ada sekitar tujuh orang, laki-laki, berusia SMA, dan sepertinya keturunan Tiongkok. Mereka tengah serius membicarakan sesuatu, entah apa. Saya hanya berjalan melewati mereka sambil melirik sekali-sekali ke arah mereka. Setelah saya agak jauh dari mereka dan sudah sangat dekat dengan masjid, tiba-tiba orang-orang tadi mengikuti mengikuti saya. Saya kemudian dipanggil oleh salah seorang dari mereka. Saya berhenti dan membalikkan badan. Orang-orang itu kemudian berdiri mengelilingi saya. Njrit, ada apa ini!? :shock:

Seseorang dari mereka : Mas, kira-kira punya masalah, nggak? Biar kita bantu dengan doa.
Si Saya : Wah, kayaknya nggak ada, deh
Seseorang dari mereka : Ya, yang masalah yang kecil, aja. Ada nggak? :-)
Si Saya : *mau doa kok maksa, ini* Ya sudah, doakan saja keselamatan saya.


Orang-orang itu lalu mengarahkan tangan mereka ke saya, lalu komat-kamit membaca sesuatu dengan membawa-bawa nama Yesus dan sebangsanya. Setelah mereka selesai komat-kamit…….


Si Saya : Terima kasih ^^
Seseorang dari mereka : *menyodorkan sejenis pamflet* Ya, nanti kalau berminat, silakan datang ke kebaktian [Nganu] ya.
Si Saya : *mengantongi pamflet tersebut* Iya, iya. Terima kasih ^^
*orang-orang tersebut lalu ngeloyor pergi*


Saya melanjutkan perjalanan ke masjid dengan hati gusar dan penuh umpatan. Sesampainya di gerbang masjid seorang pengendara motor jamaah masjid (yang kebetulan lewat waktu "event" barusan) menanyai saya.


Jamaah masjid : Eh, tadi kamu diapakan sama mereka?
Si Saya : Ah, ndak diapa-apakan, kok. :???:

Sepulang saya dari masjid, ternyata dua orang dari mereka masih ada di tempat tadi dengan menaiki sepeda motor. Karena ilfil, saya berjalan menjauh dari mereka dan merapat pada sepeda motor jamaah lainnya (yang tadi menanyai saya itu) yang sengaja melambatkan sepeda motornya, mungkin karena mengkhawatirkan saya. Sesampainya di rumah, saya membuka pamflet ybs.™. Isinya? Tentang undangan kebaktian [Nganu] tadi yang akan diselenggarakan tanggal 14-16 Mei nanti di area Bandara Juanda lama.


Saya cuma bertanya-tanya saja. Orang-orang tadi itu pernah diajari kewarganegaraan tidak di sekolah? Saya masih ingat betul salah satu pengamalan pancasila sila pertama, yaitu "tidak mengganggu umat agama lain yang beribadah menurut kepercayaannya". Boleh-boleh saja mendoakan saya dengan adab Kristiani atau mengundang saya mendatangi kebaktian, tapi mbok ya lihat situasi gitu, lho. Saya percaya kalau telinga mereka tidak tuli sehingga bisa mendengar kumandang azan dari masjid saya. Saya juga yakin mereka tidak dungu, sehingga mereka tahu kemana tujuan saya. Saya harus memilih di antara kedua sikap ini:


a. Husnuzan. Mungkin mereka belum tahu tata krama atau belum diajari pelajaran kewarganegaraan.
b. Tsuudzon. Mereka sengaja memprovokasi saya, para jamaah masjid, dan pers media kuning Islam supaya konspirasisme tetap bersarang di pikiran umat Islam. Akhirnya, pihak-pihak oportunislah yang diuntungkan dan umat saya semakin merana[1]. :evil:

Saya berharap kedepannya supaya interaksi antar umat seperti ini jangan sampai melanggar norma-norma yang berlaku. Dan jawaban saya untuk tawaran anda-anda yang tadi mendoakan saya adalah: Saya menolak datang ke kebaktian anda, kecuali ada Mbak Ciel™ di sana. *dibakar Sora-kun* xD


Jadi saya hanya meminta sopan santun saja dari evangelis-evangelis macam tadi, lihat-lihat situasi dan kondisi, lah, kalau mau mengajak komunikasi antar agama seperti tadi. Untuk saudara-saudara seiman, mari kita hadapi semuanya dengan kepala dingin dan dengan berbaik sangka. :D


Salam damai dan sejahtera.


________


[1] Ini juga konspirasisme, lho.

Uncertain Death

Saya sebenarnya tidak punya tujuan apa-apa membuat sebuah blog, dan saya tidak tahu harus menulis apa. Bahkan setelah pergi melihat-lihat blog-blog lainnya, saya masih kebingungan. Saya sebenarnya ingin menulis, tapi ada dua kendala besar. Pertama, saya tidak punya akses internet yang memadai, karena saya hanya bisa online melalui telepon genggam butut saya dan ke warnet sekali-sekali. Kedua, saya bukan orang yang mendapat banyak informasi selama ini. Jadi, ya, saya agak sungkan jika nantinya kelihatan seperti orang desa :mrgreen: . Sekalipun saya masih punya banyak hal untuk ditulis, saya sangat khawatir dengan kompulsivitas saya. Saya tidak ingin orang lain malu dan berkata,”Ya ampun, ternyata ada juga, ya orang seperti itu.” Barangkali jika saya sudah bisa menghilangkan kompulsivitas saya, atau jika saya sudah kehabisan ego, saya rasa saya akan bisa menulis dengan tenang, tanpa takut membuat segan dan malu netter lain. Mungkin juga tidak, saya terlalu takut dengan diri saya sendiri. Saya tidak berani membayangkan diri saya menulis hal-hal absurd, lalu ketakutan membaca tulisan sendiri, menutup blog ini, dan bunuh diri. Kita lihat saja nanti :-P


Ms. Akismet's Works

Short Rants