Salam damai dan sejahtera.
Pertama-tama saya minta semuanya untuk tetap tenang dan menikmati ini dengan kepala dingin.
Bangsat. Itu satu kata dari saya untuk orang-orang barusan. Sekalipun secara teologis saya igtheis, saya masih punya hati nurani sebagai muslim. Saya masih ingin ke masjid, tuan-tuan!
Ehem, jadi apakah yang membuat saya nggerundel seperti tadi? Ada kejadian menarik sewaktu saya hendak shalat Isya berjamaah di masjid dekat rumah tadi. Jadi ceritanya saya sedang membaca artikel-artikel Encarta, lalu berkumandanglah azan Isya. Saya segera bergegas menuju ke masjid. Di tengah perjalanan saya melihat ada beberapa remaja bergerombol di depan rumah tetangga saya. Ada sekitar tujuh orang, laki-laki, berusia SMA, dan sepertinya keturunan Tiongkok. Mereka tengah serius membicarakan sesuatu, entah apa. Saya hanya berjalan melewati mereka sambil melirik sekali-sekali ke arah mereka. Setelah saya agak jauh dari mereka dan sudah sangat dekat dengan masjid, tiba-tiba orang-orang tadi mengikuti mengikuti saya. Saya kemudian dipanggil oleh salah seorang dari mereka. Saya berhenti dan membalikkan badan. Orang-orang itu kemudian berdiri mengelilingi saya. Njrit, ada apa ini!? 
Seseorang dari mereka : Mas, kira-kira punya masalah, nggak? Biar kita bantu dengan doa.
Si Saya : Wah, kayaknya nggak ada, deh
Seseorang dari mereka : Ya, yang masalah yang kecil, aja. Ada nggak?
Si Saya : *mau doa kok maksa, ini* Ya sudah, doakan saja keselamatan saya.
Orang-orang itu lalu mengarahkan tangan mereka ke saya, lalu komat-kamit membaca sesuatu dengan membawa-bawa nama Yesus dan sebangsanya. Setelah mereka selesai komat-kamit…….
Si Saya : Terima kasih ^^
Seseorang dari mereka : *menyodorkan sejenis pamflet* Ya, nanti kalau berminat, silakan datang ke kebaktian [Nganu] ya.
Si Saya : *mengantongi pamflet tersebut* Iya, iya. Terima kasih ^^
*orang-orang tersebut lalu ngeloyor pergi*
Saya melanjutkan perjalanan ke masjid dengan hati gusar dan penuh umpatan. Sesampainya di gerbang masjid seorang pengendara motor jamaah masjid (yang kebetulan lewat waktu "event" barusan) menanyai saya.
Jamaah masjid : Eh, tadi kamu diapakan sama mereka?
Si Saya : Ah, ndak diapa-apakan, kok. 
Sepulang saya dari masjid, ternyata dua orang dari mereka masih ada di tempat tadi dengan menaiki sepeda motor. Karena ilfil, saya berjalan menjauh dari mereka dan merapat pada sepeda motor jamaah lainnya (yang tadi menanyai saya itu) yang sengaja melambatkan sepeda motornya, mungkin karena mengkhawatirkan saya. Sesampainya di rumah, saya membuka pamflet ybs.™. Isinya? Tentang undangan kebaktian [Nganu] tadi yang akan diselenggarakan tanggal 14-16 Mei nanti di area Bandara Juanda lama.
Saya cuma bertanya-tanya saja. Orang-orang tadi itu pernah diajari kewarganegaraan tidak di sekolah? Saya masih ingat betul salah satu pengamalan pancasila sila pertama, yaitu "tidak mengganggu umat agama lain yang beribadah menurut kepercayaannya". Boleh-boleh saja mendoakan saya dengan adab Kristiani atau mengundang saya mendatangi kebaktian, tapi mbok ya lihat situasi gitu, lho. Saya percaya kalau telinga mereka tidak tuli sehingga bisa mendengar kumandang azan dari masjid saya. Saya juga yakin mereka tidak dungu, sehingga mereka tahu kemana tujuan saya. Saya harus memilih di antara kedua sikap ini:
a. Husnuzan. Mungkin mereka belum tahu tata krama atau belum diajari pelajaran kewarganegaraan.
b. Tsuudzon. Mereka sengaja memprovokasi saya, para jamaah masjid, dan pers media kuning Islam supaya konspirasisme tetap bersarang di pikiran umat Islam. Akhirnya, pihak-pihak oportunislah yang diuntungkan dan umat saya semakin merana[1]. 
Saya berharap kedepannya supaya interaksi antar umat seperti ini jangan sampai melanggar norma-norma yang berlaku. Dan jawaban saya untuk tawaran anda-anda yang tadi mendoakan saya adalah: Saya menolak datang ke kebaktian anda, kecuali ada Mbak Ciel™ di sana. *dibakar Sora-kun* xD
Jadi saya hanya meminta sopan santun saja dari evangelis-evangelis macam tadi, lihat-lihat situasi dan kondisi, lah, kalau mau mengajak komunikasi antar agama seperti tadi. Untuk saudara-saudara seiman, mari kita hadapi semuanya dengan kepala dingin dan dengan berbaik sangka.
Salam damai dan sejahtera.
________
[1] Ini juga konspirasisme, lho.